Sabtu, 20 Oktober 2012

FATAMORGANA


Oleh : Em Khebe

Maria dan Renro berjalan tergesa-gesa. Kalau melakukan perjalanan jauh, mereka biasanya berangkat pagi-pagi, tetapi mungkin ada urusan sehingga menjelang jam sepuluh mereka baru meninggalkan Lewoleba. Terik matahari, jalanan mendaki dan berbatu, seharusnya membuat langkah kaki mereka tertatih-tatih, tetapi tidak demikian. Mereka justru semakin bersemangat dibakar matahari. Laut di teluk Lewoleba dengan pulau laut Awololo serta tanjung Tuak Wutu yang panjang menjulur dari utara ke barat daya melindungi seluruh teluk Lewoleba tidak menarik perhatian mereka. Dengan segera desa Namawekak dan pendakian Wai Il mereka lewati.

Satu jam lewat tengah hari, mereka beristirahat sejenak di persimpangan jalan yang menghubungkan desa Lite. Daerah sekitar masih asli berupa padang rumput sabana dengan pohon yang sangat jarang. Hamparan padang luas di hadapan mereka adalah Kenale dengan sumber air mirip oase. Desa Lite sendiri tersembunyi di antara pohon-pohon kemiri. Di sana terdapat pula sumber air yang cukup besar. Tahun enam puluhan Lite menjadi tempat persinggahan yang ramai, karena menjadi tempat istirahat setelah berjam-jam menempuh padang Kenale kalau dari arah timur, maupun setelah menempuh kelok-kelok bebukitan Pukai Wutu, bila dari arah barat. Tetapi jalan memorial yang penuh tantangan itu hanya menjadi masa lalu bagi mereka yang dilahirkan sebelum tahun 1970.

Setelah sekitar tiga kilo meter dari istirahat pertama, Renro berhenti dan mengamati dengan teliti pohon-pohon sekitar. “Di sini dulu ada sebuah rumah singgah pengantar pos dari Lewoleba. Mungkin peninggalan dari zaman Jepang atau Belanda. Sayang terbakar dan yang tertinggal hanya kenangan saja.” Kata Renro mengenang. “Dulu saya pernah beristirahat beberapa kali sambil menahan haus. Tidak ada orang yang berpikiran menjual kelapa atau tuak”. Maria menerawang jauh ke tahun enam puluhan. Memang dulu setiap orang saling mencurigai dan juga tempat itu sangat terpencil. Orang memilih keamanan yang lebih penting dari pada berjualan.

Mereka berjalan sambil bercerita dan tidak terasa mereka sudah mendekati desa Belek, yang ternyata tinggal puing-puing saja karena ditinggalkan penghuninya. Deretan bangunan yang dulu dibangun permanen masih kokoh berdiri di tengah semak belukar. Demikian juga gedung gereja dulu dibangun oleh seorang pastor berkebangsaan Amerika, namanya pastor Smitz. Mereka tidak tahu pasti alasan penduduk meninggalkan desanya. Mereka menduga mungkin tidak nyaman karena desa ini terbuka menerima terpaan angin dari timur dan barat, atau karena alasan yang lain. Dari letaknya dan pemandangan yang disajikan alam ka barat dan ke tenggara memang sangat indah.

“Bukan main, lihatlah banyak sekali kuda di lereng bukit” Teriak Renro.
“Indah sekali, di antara pohon-pohon kaliandra.”    Sambung Maria.
“Oh itu namanya pohon kaliandra? Dulu waktu saya melewati jalan ini, pohon itu belum tumbuh di sini. Ya.. sudah belasan tahun yang lalu bersama sekelompok anak dari Waiwejak.” Kenang Renro, dan kala itu desa belek termasuk desa yang ramai, dan daerah yang mereka lewati kini dulu merupakan ladang penduduk.
“Pohon kaliandra baru ada setelah bencana longsor yang dahsyat di Waiteba. Entah dari mana pohon itu tumbuh bersama rumput yang menjengkelkan,” jawab Maria.

”Pohon perdu itu hijau dan menarik, tetapi rumput coklat itu memang sangat menjengkelkan. Tidak mungkin rumput dan pohon tumbuh secara kebetulan. Malaekat menurunkan tanaman kaliandra di lereng-lereng bukit dan setan menyebarkan bunga rumput di dataran. Bunga rumput yang seringan kapas itu segera tertiup angin ke segala arah. Dalam waktu semusim saja pulau sudah tertutup rumput liar yang menjengkelkan, tidak menyuburkan tanah malahan sebaliknya mematikan tanaman-tanaman penghijau seperti krotolaria.”  Terdengar Renro menggerutu dengan kesal, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima saja.

Mendaki lereng terjal yang banyak ditumbuhi pohon kaliandra itu, hujan mulai rintik-rintik dan tiba-tiba lebat sekali. Mereka tidak menyangka sama sekali, karena jarang terjadi hujan di tengah musim kemarau. Di bukit, jauh dari perkampungan, mereka tidak dapat mencari perlindungan selain pasrah saja. Kabut juga demikian tebal sehingga jarak pandangpun hanya dua atau tiga meter saja. Mereka tetap berjalan berdampingan, tidak berani berjauhan. Apalagi sering ada cerita tentang ’tenébér’, yaitu hantu dalam awan yang membawa orang menghilang dan tiba-tiba berada di tempat terjal yang sulit di jangkau orang. Entah berapa lama mereka berjalan dalam keadaan hujan dan berkabut demikian.

Fatamorgana
Tetapi tiba-tiba awan di depan mereka terbuka sedikit dan… “Oh Maria… betapa indah pemandangan di gunung di depan itu.” Seru Renro keherananan.

“Ya indah sekali, kota apa itu? Saya belum pernah melihatnya.” Kata Maria.
“Kota seperti itu hanya ada dalam lukisan. Ternyata daerah kita ada tempat yang sangat indah. Hutan menghijau dan atap rumah berwarna merah ada di antara pohon-pohon yang rindang dan hijau. 

Suasana di depan itu suatu ketika mudah-mudahan saya dapat melukisnya. Kota apa itu? Saya tidak pernah mendengar bahwa ada kota yang indah di gunung itu.” Renro semakin kagum sekaligus penasaran. Pemandangan itu sangat mentakjubkan dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Dan bahkan perasaan merekapun seakan berada di dunia lain, padahal kaki mereka menjejak tanah Lembata.

Sementara mereka masih terpukau, kabut tiba-tiba pergi dan … ”Mana kota yang sangat indah itu?”, Renro mencari-cari pemandangan yang baru dilihatnya, demikian jaga Maria. Renro kecewa karena pemandangan yang indah itu lenyap bersama kabut. ”Orang-orang yang hilang dibawa ’tenébér’ itu mungkin seperti pemandangan tadi. Orang begitu terpukau sehingga masuk ke pemandangan yang indah tetapi tiba-tiba berada di tempat yang tidak dikenalnya. Saya jadinya merinding.” Kata Maria sambil langkahnya diperlambat mendekati Renro yang masih dari belakang. ”Ya mungkin juga. Saya saja masih ingin masuk ke dalam kabut untuk melihat kota itu. Rupanya itu cara hantu tenébér menangkap mangsa.” Kata Renro, wajahnya menampakkan ketakutan. Kata-kata Renro diiyakan saja oleh Maria yang semakin ketakutan.

Dari jauh tampak desa Waiwejak dan lebih ke atas lagi Watuwawer. Renro dan Maria sangat penasaran mencari ke segala arah, tetapi tidak melihat kota seperti yang ada di dalam kabut tadi. Bila sendirian mengalami pemandangan seperti itu bisa-bisa perhatiannya tersedot sehingga menghilang. Mereka yang mengalami itu biasanya ceritanya indah-indah tetapi kenyataannya mereka sangat menderita. Sambil berjalan Renro menceritakan kakak sepupuhnya Martinus yang di bawah tenébér beberapa tahun yang lalu dan ditempatkan di bukit dekat dapur alam. Ketika ditanya oleh bapaknya bahwa kampung dekat sekali mengapa ia tidak pulang, dan dijawab Martinus bahwa di hadapannya terdapat jurang terjal yang tidak bisa dilewati. Hantu ’teneber’ itu benar-benar memutarbalikan keadaan.

Mereka melewati desa Bakan kemudian desa Lewaji. Setelah Lewaji ada sumber air dan pancurannya menarik, tetapi mereka tidak singgah. Turun di Waikowan, sumber air panas yang menyembul dari dalam tanah di antara pohon-pohon kelapa, juga tidak menarik untuk dilihat. Hanya setelah setelah Waikowan ada keluarga di pondok yang meminta mereka untuk mampir dan permintaan itu tidak dapat mereka tolak. Sekitar seperempat jam mereka mampir dan disuguhi tuak dari pohon kelapa, lalu mereka melanjutkan perjalanan. Mendekati kali mati dekat Wai Krata, matahari masih kelihatan di atas lereng gunung Laba Lekan, jadi menurut perkiraan, mereka akan tiba di Watuwawer sekitar jam enam sore.

Kuda berdahi putih

Begitu kaki mereka menginjak pasir di kali, keadaan berubah menjadi gelap gulita. Renro menjadi penunjuk jalan merasa heran menghadapi keadaan itu. Tadinya mereka mau melewati jalan pintas, akhirnya kembali ke jalan yang menuju desa Waiwejak lewat Wai Krata. Tetapi memasuki jalan ke Wai Krata lebih parah lagi. Jalan di depan Renro tiba-tiba hilang dan mereka malahan berada di bawah pohon enau dan tampak bayang-bayang pohon yang lain. Situasi sungguh sangat gelap dan tidak bisa melihat apa-apa lagi. Renro tidak bisa melihat Maria dan juga sebaliknya.
  
“Maria.., saya bingung sekali, mengapa jalanan tiba-tiba kacau begini? Ayo sekarang kita duduk dulu, ada gangguan yang sangat serius. Sebelum menginjak kali, kita melihat matahari masih tinggi, jadi tidak mungkin tiba-tiba menjadi gelap.” Kata Renro penasaran dan sedikit ketakutan.
“Ya benar sekali. Saya juga memperkirakan bahwa kita akan sampai di Watuwawer sejenak setelah matahari terbenam” sambung Maria.
“Tetapi kenyataan yang kita alami hari ini sungguh aneh. Siang tadi kita disuguhi pemandangan yang sangat indah. Dan sorenya keadaan seperti begini. Aneh dan tidak masuk  akal sama sekali. Tadi kita berada pada jalan yang lapang dan tiba-tiba berada di bawah pohon enau dan terjal dan sangat gelap lagi.” Renro betul-betul heran, penasaran campur takut.

“Kita duduk saja, jangan berjauhan dan tidak boleh pindah tempat.” Maria menganjurkan.
“Ya memang demikian. Bergerak dan pindah tempat berarti memberi kesempatan kepada setan untuk mengatur strategi lain. Duduk dan menunggu di sini biar setan juga belajar duduk manis”.  Renro bergurau membuat Maria tertawa. Mereka cerita bergantian mengisi malam pekat tanpa kepastian.

Entah berapa lama mereka duduk, tiba-tiba dari jauh terdengar suara seorang ibu. Makin lama makin dekat dan jelas. Ia memegang sebuah obor bernyala yang diangkat tinggi-tinggi sambil bersuara keras atau berteriak seakan memanggil anjing. Ibu itu berjalan sepertinya di depan seekor kuda. Semakin dekat Renro dapat melihat jelas bahwa di atas kuda duduk dua anak. Meskipun sendirian ibu itu bersuara terus, mungkin strategi menghalau ketakutan sendiri atau menghalau setan. Renro berdiri dan menyapa ketika mereka semakin mendekat.

“Malam bae ina, dari mana?” Ibu itu kaget dan menghentikan kuda.
“Kami dari Paulolo. Kamu siapa? Setan atau manusia? Mengapa ada di hutan ini?” Ibu itu kaget menyaksikan dua insan berlainan jenis di hutan larangan di malam buta maka pertanyaannya keluar seperti pelor.
“Ina kami manusia. Tadi mau ke Waiwejak, tapi ada yang membuat kami terpaksa berhenti di sini. Ceritanya nanti saja, sekarang kami gembira bisa melanjutkan perjalananan malam ini.” Jawab Maria gembira.

“Mari berangkat bersama. Kamu berdua pastilah orang baru di daerah ini sehingga berani berhenti di sini atau pasti ada gangguan. Di sini kalau tidak hati-hati bisa hilang. Sudah banyak kejadian. Beruntung kamu berdua berhenti, kalau tidak … entahlah. Lain kali jangan lewat sendirian entah siang atau malam.” Wanita itu memperingatkan.


Sambil berjalan tiba-tiba ada kuda yang ada warna putih pada dahinya datang hendak menabrak Renro yang berjalan paling belakang, membuat Renro kaget dan  berhenti. ”Kuda siapa ini, hampir menabrak saya.” Teriak Renro sementara itu kuda tadi berjalan terus dan menghilang dalam kegelapan. Semua berhenti melihat Renro.
”Memangnya ada kuda? Saya yang berjalan paling depan tidak melihat ada kuda.” Maria bersuara dari depan.
“Tadi siang tidak ada kuda yang diikat di tempat ini dan tidak ada orang yang berani mengikat kudanya di hutan keramat ini. Tadi pasti roh jahat yang mengganggu kamu menampakkan diri dalam bentuk kuda. Sekarang jalan terus jangan menoleh kebelakang”. Kata ibu itu memperingatkan.
Renro yang berjalan paling belakang tidak berani lagi menoleh untuk melihat kuda yang menghilang dalam kegelapan, hanya ia merinding dan kepalanya terasa membesar.

Tidak lama kemudian mereka sampai di Waiwejak. Ibu itu mengajak mereka singgah di rumahnya sebentar untuk menenangkan mereka. Setelah hati dan nafas menjadi lebih tenang, Maria dan Renro mohon diri dan meneruskan perjalanan ke Watuwawer. Bukit Keneping yang menyatu dengan Karlolo, yaitu bukit di atas dapur alam yang tadi diceritakan Renro berhubung dengan hilangnya Martinus, legam dan lengang, anginpun seperti takut mengusiknya. Mereka mempercepat langkah agar segera tiba di kampung. 

Mereka rasanya sudah menghabiskan separuh malam di Waikrata tetapi ketika tiba di kampung Watuwawer, baru jam tujuh malam?  Aneh! Rasa heran, gembira dan takut bercampur aduk. Renro dan Maria menceritakan pengalaman yang indah mempesona dan juga seram menakutkan silih berganti hari itu. 
*** NB: Setiap saya membaca tulisan ini perasan ngeri dan merinding masih menghinggapiku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar